Rabu, 26 Mei 2010

Senjakala Politik SBY

Konggres Partai Demokrat yang berlangsung pada tanggal 22-23 mei 2010 memberikan pesan sekaligus pembelajaran dalam dinamika politik nasional. Pesan yang sangat essensial menurut hemat penulis adalah untuk pertama kali dalam sebuah konggres partai politik, unsur teknologi diberikan ruang lebih dalam proses pemungutan suara. Wacana digunakannya finger hand dalam proses pemungutan ketua partai Demokrat menjadi babak baru perjalan proses pembelajaran politik bagi kita semua (khususnya para kader partai), bahwa teknologi dan proses dinamika politik dapat saling bersinergi dan saling melengkapi. Walaupun pada akhirnya pemakaian e-voting ini tidak jadi diselenggarakan, perubahan pola pakem pemungutan suara dari sistem konvensional menuju alih teknologi menjadi value positif ditengah hingar bingar jalannya konggres. Pesan kedua, terpilihnya Anas Urbaningrum menjadi catatan sejarah karena dirinya menjadi anak bangsa termuda yang menduduki ketua partai politik. Banyak pihak inilah sinyalemen kemenangan kader muda dalam meretas kaderisasi partai politik agar lebih komprehensif, sekaligus dewasa. Dewasa dalam artian patron partai politik sebagai kaderisasi politik sekaligus menghasilkan pemimpin muda potensial harus didudukkan dalam koridor yang benar.

Pesan sekaligus pembelajaran berikutnya adalah saat proses pemilihan ketua Partai Demokrat berlangsung. Berbagai jajak pendapat dan argumentasi dari berbagai lembaga survei memberikan sinyalemen Andi Malarangeng akan mulus menjadi ketua Partai Demokrat baru menggantikan Hadi Utomo. Prediksi ini sah-sah saja karena dari jauh hari, tim pemenang yang dibentuk Andi memang sudah menjalankan berbagai strategis dari pemasangan iklan di media cetak, elektronik sampai penggalangan dukungan dari DPC dan DPD se-Indonesia. Inilah yang kita kenal sebagai “politik pencitraan”. Taktik yang sudah dipakai pendahulungan (SBY dan kakaknya Rizal Malarangeng) untuk menjaring massa pendukung. Andi pun dengan percaya diri mengklaim telah didukung dua per tiga lebih jumlah DPC dan DPD Partai Demokrat se Indonesia. Bahkan, sebelum dilaksanakannya konggres, Andi membuat wacana penentuan ketua Partai Demokrat melalui proses aklamasi. Sebuah bentuk kepercayaan diri yang tinggi tentunya. Merapatnya Edie Baskoro Yudhoyono semakin mempertegas bahwa dukungan keluarga Cikeas (dalam pemikiran penulis sebagai artikulasi dukungan SBY) akan mengarah kepada Andi.

Persiapan yang “tampak” biasa saja justru diperlihatkan oleh dua kandidat lain, yaitu Anas Urbaningrum dan Marzuki Alie. Kedua nya sebenarnya juga sepakat mengklaim telah mendapat dukungan DPC dan DPD dari seluruh Indonesia. Dukungan ini yang kemudian menjadi jualan utama para kandidat calon ketua partai untuk meyakinkan pemilih nantinya di dalam kongres, tak terkecuali Anas.

Setelah Konggres berlangsung semua berakhir antiklimaks. Banyak orang tidak menduga Andi akan kalah telak dalam perebutan kursi ketua partai. Yang lebih menyakitkan, Andi harus angkat kaki pada saat putaran pertama berlangsung. Praktis, putaran kedua menjadi pertarungan antara Marzuki dan Anas. Walau suara Andi kemudian dilimpahkan kepada Marzuki, tidak mampu membendung perolehan suara Anas diakhir proses pemungutan suara. Inilah cermin kekalahan “politik pencitraan” yang berorientasi kepada kekuatan dukungan dana dan waktu yang sempit untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Kegagalan dukungan keluarga Cikeas kepada Andi sekaligus hasil berantakan strategi “politik pencitraan” yang dilakukan Andi memang menjadi pukulan telak SBY. Pengamat politik senior LIPI Ikrar Nusa Bakti melihat ini sebagai “Senjakala SBY”. Gagalnya SBY dalam mengawal pencalonan Andi untuk merebut kursi pertama di Partai Demokrat serta sikap mencla mencle SBY dalam mengatur posisi Anggito Abimanyu sebagai calon Wakil Menteri Kemenkeu menjadi pukulan telak berikutnya. Belum lagi ketidaktegasan dan keliaran SBY dalam menanggapi posisi Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan menjadi bukti lemahnya SBY dalam mengambil sikap tegas dimata publik.

Kemanangan Anas bukan tidak mungkin menjadi pengungkit proses perubahan kaderisasi dari elit lama dan tua untuk digantikan yang muda. Walau partai-partai besar seperti Golkar dan PDI Perjuangan telah merampungkan konggres partai untuk memilih ketua partai, setidaknya hal ini menjadi pembelajaran sekaligus angin segar bagi eksistensi parpol sebagai corong perubahan. Sudah saatnya trah keluarga dan bentuk relasi hubungan kesukuan, keluarga dan kekerabatan ditanggalkan oleh semua pihak saat dirinya terjun ke partai politik.

Sekali lagi, inilah senjakala politik SBY yang sangat identik dengan politik pencitraan. Pencitraan yang mengantarkan dirinya duduk sebagai presiden sampai dengan saat ini oleh sebagian kalangan. Paradigma ini tampaknya bukan lagi menjadi jualan yang efektif dalam menjaring masa. Nurani publik sudah mulai dewasa dalam melihat fenomena elit dalam menggerakkan perjalanan bangsa ini. Pembelajaran itu sudah diberikan oleh kader-kader Partai Demokrat yang tidak terikat oleh pakem atau sabda SBY selaku Pembina Partai Demokrat. Semoga Anas menjadi generasi muda yang mampu menempatkan integritas, amanah, dan rendah hati dalam menjalankan fungsi partai sebagai sarana artikulasi politik, agregasi politik, kaderisasi politik dengan santun dan menjunjung tinggi sikap profesionalisme. Selamat berjuang Bung Anas!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar