Sabtu, 21 Mei 2011

Pancasila: Sumber Nasionalisme atau Anarkisme?

Ketika pendulum zaman rezim orde baru bergeser kepada era reformasi, pelajaran sekolah semacam Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), Pelajaran Modal Pancasila (PMP) dan pelajaran sekolah yang berafiliasi “Pancasila” menjadi tabu untuk diajarkan di ranah pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Menjadi tabu dan tidak layak untuk dikenalkan karena hampir semua orang setuju Pancasila menjadi alat politik elit orde baru untuk menciptakan tirani. Kehilangan Pancasila bagi sebagian kalangan pasca pergerakan reformasi menjadi jalan baru dalam mencari persatuan dan harapan yang lebih baik. Kini, setelah tiga belas tahun berlalu, harapan yang coba dirajut bangsa ini tanpa peranan Pancasila masih belum mampu diwujudkan. Resistensi masalah atas konsekuensi hilangnya Pancasila dalam ranah kehidupan berbangsa dan bernegara justru semakin pelik. Ancaman disintegrasi seperti pergerakan NII, teror bom dipelbagai daerah, etika politik dari elit kekuasaan yang semakin bobrok serta permasalahan social ekonomi dan politik, justru semakin membuat jengah kesabaran rakyat. Kerinduan kembali kepada keberadaan Pancasila pun mengemuka setelah sekian lama terlupakan. 

Sila yang Hilang

Dalam diskusi publik yang disiarkan oleh salah satu stasiun TV nasional terjadi kegaduhan yang cukup menyita perhatian peserta diskusi. Ketika moderator menunjuk salah satu penonton diskusi untuk membacakan sila Pancasila, penonton yang ditunjuk oleh moderator tidak mampu menghafal dan menyampaikan dengan sempurna. Intinya, peserta diskusi yang didaulat membacakan Pancasila lupa akan isi dari lima sila. Celakanya, diskusi ini digelar di gedung Mahkamah Konstitusi. Tempat dimana dalam struktur ketatanegaraan Indonesia menjadi simbol tertinggi pengejawantahan Pancasila sebagai landasan pelbagai peraturan. Tempat dimana sejatinya kealphaan akan bunyi sila dan falsafah Pancasila haram hukumnya. Tapi apa boleh buat, ini adalah potret keberhasilan “pemberedelan”Pancasila dari ingatan masyarakat kita pada era reformasi. Lebih parah lagi, simbol-simbol dan napak tilas sejarah pembentukan pancasila kini semakin ditinggalkan oleh masyarakat. Museum Pancasila dan Lubang Buaya yang dulu menjadi tempat wisata wajib bagi siswa SD sampai SMU, kini semakin sepi. Inikah konsekuensi pergerakan reformasi yang telah menginjak 13 tahun? sebuah cita-cita luhur yang kini sangat kontras antara harapan dan kenyataan?

Dalam konteks kekinian, pelbagai masalah kebangsaan yang timbul memang tidak dapat disanggah karena kita mulai kehilangan orientasi berpancasila. Hubungan elit dan rakyat kini semakin jauh. Ketika pada zaman orde baru pemeliharaan “persatuan” diperankan begitu elegan oleh Pancasila, kini peran itu belum mampu dilakukan oleh instrumen kebangsaan lainnya. Tidak terkecuali demokrasi yang oleh kita dijadikan wahana perubahan pasca reformasi, nyatanya justru menimbulkan parasit demokrasi yang semakin menyengsarakan banga ini kepada lembah nestapa. Peran lembaga tinggi negara dan para aparatur negara sampai hri ini juga terbukti gagal karena mereka justru menjadi stimulus dari karut marut pelbagai permasalahan yang ada. Tarik menarik pembangunan gedung DPR dan egoisme para wakil rakyat dalam memandang urgensi pembangunan gedung, justru lebih menarik ceritanya bagi kita (rakyat), menjadi hiburan sekaligus pepesan kosong pengocok perut. Lawakan DPR yang tidak juga bosan untuk dinikmati oleh rakyat di televise justru menjadi lebih menarik dari pada mengurusi kesejahteraan dan pencabutan tapal perbatasan bangsa. Lihat pula bagaimana permasalahan Ahmadiyah yang pada masa orde lama dan orde baru menjadi satu hal yang lumrah dan diterima sebagai konsekuensi “kebhinekaan” bangsa Indonesia, kini menjadi issue SARA yang menakutkan dan memakan korban jiwa. Pembangunan demokrasi yang tidak bercirikan Pancasila selama tiga belas tahun terakhir nyatanya jsutru menenggelamkan bangsa ini pada tirani dan ancaman disintegrasi yang nyata. Makna dari sila-sila Pancasila pun dilihat sebagai simbolisasi dari sejarah bangsa Indonesia. Pancasila kini dipandang tidak lagi update dengan permasalahan bangsa pada era masa kini. Demokrasi yang kita jalankan sekarang ini menyitir dari pendapat Plato adalah “parasit demokrasi”.

Makna Sila yang Hilang

Bung Karno, Bung Hatta, dan Bapak Bangsa kita lainnya sejatinya merancang Pancasila sebagai elemen sekaligus pemersatu dalam melaksanakan kehidupan berbangsa dan bernegara. Koherensi sila pertama sampai dengan sila kelima memiliki arti dan butir yang saling terkait dan tidak dapat dipisah. Namun, polarisasi pembangunan bangsa kita saat ini nyatanya hanya terkooptasi pada satu sila tertentu tanpa mempertimbangkan sila yang lain. Pertentangan sila ketuhanan yang maha esa dengan sila persatuan Indonesia misalnya, menjadi sangat ambigu karena dalam praktiknya, sila ketuhanan yang maha esa menjadi sumber penyakit persatuan bangsa. Issue SARA dan sentimen kesukuan antar masyarkat dalam ranah sosial dan ekonomi sangat terasa dan dibiarkan tumbuh sebagai “bom waktu” dan komoditas politik para elit. Hubungan antar lembaga tinggi negara dewasa ini juga mencerminkan adanya saling sandera dalam hal kewenangan dan Tupoksi (tugas pokok dan fungsi). Penyanderaan ini dapat kita lihat dari resistensi yang ditunjukkan DPR terhadap sepak terjang KPK dalam memberantas korupsi. Pemangkasan KPK dari sisi fungsi, kewenangan, sampai anggaran dana menjadi sinyal kuat gerahnya para wakil rakyat kepada lembaga super body ini. Dalam lingkup penyelenggaraan demokrasi (Pemilu dan Pemilukada), penodaan kepada falsafah Pancasila juga sangat jelas terlihat. Dari mulai terkebirinya prinsip Jurdil (jujur dan adil) dalam menyelenggaraan kampanye di tingkat pusat hingga daerah, sampai kegagalan peran dan fungsi partai politik sebagai agent of change. Rente kekuasaan justru sangat melekat dalam tubuh partai. Rente yang kini menjadi “jualan” utama bagi mereka yang ingin membeli kekuasaan.

Romantisme Pancasila

Kegagalan negara dalam mengontrol permasalahan bangsa, baik yang sifatnya laten maupun permasalahan yang sudah nyata terjadi tidak dapat dipungkiri karena tidak adanya perekat kebangsaaan antar masyarakat. Kalau dulu Pancasila dijadikan alat perakat persatuan oleh Pak Harto, perekat persatuan kita saat ini adalah “kesamaan kepentingan”. Romantisme yang kini coba untuk dibangunkan kembali melalui instrument survey. Publikasi hasil survey Indo Barometer yang menyebutkan sebagian besar rakyat kita kangen akan masa orde baru dengan segala kenyamana dan keamanan yang “semu” menurut hemat penulis patut menjadi warning kegagalan elit kita. Walau keabsahan survei masih diperdebatkan dari sisi metodologi dan metode pengambilan samplingnya. Hasil survei ini cukup menjadi masukan bahwa realitas masyarakat kita tidak puas dengan kinerja pemerintah sekarang.

Bangsa ini sejatinya mencoba peruntungan baru ketika berpaling dari Pancasila. Namun, kerinduan akan hadirnya Pancasila dalam kehidupan masyarakat tidak dapat dibantah mengindikasikan rasa frustasi yang dirasakan rakyat. Jika pun Pancasila harus dihadirkan kembali di tengah-tengah hiruk pikuk kehidupan dewasa ini, yang harus dilakukan sekarang adalah bagaimana mengkaji falsafah nilai-nilai Pancasila agar relevan dengan permasalahan bangsa kekinian. Pancasila harus dikaji dalam ranah keilmuan dan ilmiah serta mampu menjadi sumber ide dan solusi bagi permasalahan bangsa kita. Jika kita melihat paham marxisme, perkembangan ideologi ini sangat artikulatif. Marxisme oleh pelbagai pakar telah dijadikan sebagai “marxisme science ou idéologie”. Masxisme tetap tumbuh dan digandrungi oleh sebagai masyarakat dunia walau secara aplikasi sangat kecil kita lihat dan rasakan.

Bangsa kita juga harus menggali Pancasila sebagai fokus dan lokus science idéologie yang mumpuni. Tidak hanya sekedar simbol yang tergerus oleh modernitas zaman. Kita memiliki modal dasar untuk mengeksiskan pancasila sebagai value bangsa. Pembentukan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan menjadi master piece keberhasilan Pancasila dalam membentuk karakter dan cirri khas Indonesia dimata dunia. Hal yang sampai saat ini masih menjadi masalah nasional di Negara Belgia. Mereka selama puluhan tahun tidak dapat memformulasikan bahasa persatuan walau secara jumlah demografi dan luas wilayah sangat kecil dibandingkan Indonesia.

Oleh karena itu, Pancasila di era modern harus mampu ditempatkan dalam setiap ranah kehidupan berbangsa dan bernegara. Mampu diaplikasikan dalam setiap hubungan yang kaya dengan yang miskin, yang  tua dengan yang muda, yang pintar dengan yang bodoh, yang memerintah dengan yang diperintah. Harus ada harmonisasi peran dan hak dari masing-masing peran. Jangan sampai bangkit dan kembalinya Pancasila ke peraduan  kita sekarang ini akan menjadi tidak punya arti jika sila kelima (keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia) belum dapat dipenuhi oleh Negara (elit). Prasyarat ini menjadi sangat penting karena kegagalan peran Pancasila di era modern (menjelang kejatuhan rezim orde baru), diakibatkan karena kita sebagai bangsa belum mampu mencapai dan mewujudkan sila kelima yang pada hakikatnya adalah tujuan akhir dari falsafah Pancasila. Sebuah tujuan besar yang disokong oleh empat sila sebelumnya. Selama pengejawantahan sila kelima masih berkutat kepada cita-cita dan bahasa utopia semata, bangsa ini akan tetap memaknai Pancasila sebagai simbol perjuangan pemersatu bangsa semata. Tidak lebih!

Senin, 21 Maret 2011

Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam (ULIL ABSHAR ABDALLA)

"SAYA meletakkan Islam pertama-tama sebagai sebuah “organisme” yang hidup; sebuah agama yang berkembang sesuai dengan denyut nadi perkembangan manusia. Islam bukan sebuah monument mati yang dipahat pada abad ke-7 Masehi, lalu dianggap sebagai “patung” indah yang tak boleh disentuh tangan sejarah"

Saya melihat, kecenderungan untuk “me-monumen-kan” Islam amat menonjol saat ini. Sudah saatnya suara lantang dikemukakan untuk manandingi kecenderungan ini.

Saya mengemukakan sejumlah pokok pikiran di bawah ini sebagai usaha sederhana menyegarkan kembali pemikiran Islam yang saya pandang cenderung membeku, menjadi “paket” yang sulit didebat dan dipersoalkan: paket Tuhan yang disuguhkan kepada kita semua dengan pesan sederhana, take it or leave it! Islam yang disuguhkan dengan cara demikian, amat berbahaya bagi kemajuan Islam itu sendiri.

Jalan satu-satunya menuju kemajuan Islam adalah dengan mempersoalkan cara kita menafsirkan agama ini. Untuk menuju ke arah itu, kita memerlukan beberapa hal.

Pertama, penafsiran Islam yang non-literal, substansial, kontekstual, dan sesuai dengan denyut nadi peradaban manusia yang sedang dan terus berubah.

Kedua, penafsiran Islam yang dapat memisahkan mana unsure-unsur di dalamnya yang merupakan kreasi budaya setempat, dan mana yang merupakan nilai fundamental. Kita harus bisa membedakan mana ajaran dalam Islam yang merupakan pengaruh kultur Arab dan mana yang tidak.

Islam itu kontekstual, dalam pengertian, nilai-nilainya yang universal harus diterjemahkan dalam konteks tertentu, misalnya konteks Arab, Melayu, Asia Tengah, dan seterusnya. Tetapi, bentuk-bentuk Islam yang kontekstual itu hanya ekspresi budaya dan kita tidak diwajibkan mengikutinya.

Aspek-aspek Islam yang merupakan cerminan kebudayaan Arab, misalnya, tidak usah diikuti. Contoh, soal jilbab, potong tangan, qishash, rajam, jenggot, jubah, tidak wajib diikuti, karena itu hanya ekspresi lokal particular Islam di Arab.

Yang harus diikuti adalah nilai-nilai universal yang melandasi praktik-praktik itu. Jilbab intinya adalah mengenakan pakaian yang memenuhi standar kepantasan umum (public decency). Kepantasan umum tentu sifatnya fleksibel dan berkembang sesuai perkembangan kebudayaan manusia. Begitu seterusnya.

Ketiga, Umat Islam hendaknya tidak memandang dirinya sebagai “masyarakat” atau “umat” yang terpisah dari golongan yang lain. Umat manusia adalah keluarga universal yang dipersatukan oleh kemanusiaan itu sendiri. Kemanusiaan adalah nilai yang sejalan, bukan berlawanan dengan Islam.

Larangan kawin beda agama, dalam hal ini antara perempuan Islam dengan lelaki non-Islam, sudah tidak relevan lagi. Quran sendiri tidak pernah dengan tegas melarang itu, karena Quran menganut pandangan universal tentang martabat manusia yang sederajat, tanpa melihat perbedaan agama. Segala produk hokum Islam klasik yang membedakan antara kedudukan orang Islam dan non-Islam harus diamandemen berdasarkan prinsip kesederajatan universal dalam tataran kemanusiaan ini.

Keempat, kita membutuhkan struktur sosial yang dengan jelas memisahkan mana kekuasaan politik dan mana kekuasaan agama. Agama adalah urusan pribadi; sementara pengaturan kehidupan public adalah sepenuhnya hasil kesepakatan masyarakat melalui prosedur demokrasi. Nilai-nilai universal agama tentu diharapkan ikut membentuk nilai-nilai publik, tetapi doktrin dan praktik peribadatan agama yang sifatnya particular adalah urusan masing-masing agama.

Menurut saya, tidak ada yang disebut “hukum Tuhan” dalam pengertian seperti dipahami kebanyakan orang Islam. Misalnya, hokum Tuhan tentang pencurian, jual beli, pernikahan, pemerintahan, dan sebagainya. Yang ada adalah prinsip-prinsip umum yang universal yang dalam tradisi pengkajian hukum Islam klasik disebut sebagai maqashidusy syari’ah atau tujuan umum syariat Islam.

Nilai-nilai itu adalah perlindungan atas kebebasan beragama, akal, kepemilikan, keluarga / keturunan, dan kehormatan (honor). Bagaimana nilai-nilai itu diterjemahkan dalam konteks sejarah dan sosial tertentu, itu adalah urusan manusia Muslim sendiri.
***
BAGAIMANA meletakkan kedudukan Rasul Muhammad SAW dalam konteks pemikiran semacam ini? Menurut saya, Rasul Muhammad SAW adalah tokoh histories yang harus dikaji dengan kritis, (sehingga tidak hanya menjadi mitos yang dikagumi saja, tanpa memandang aspek-aspek beliau sebagai manusia yang juga banyak kekurangannya), sekaligus panutan yang harus diikuti (qudwah hasanah).

Bagaimana mengikuti Rasul? Di sini, saya mempunyai perbedaan dengan pandangan dominan. Dalam usaha menerjemahkan Islam dalam konteks sosial-politik di Madinah, Rasul tentu menghadapi banyak keterbatasan. Rasul memang berhasil menerjemahkan cita-cita sosial dan spiritual Islam di Madinah, tetapi Islam sebagaimana diwujudkan di sana adalah Islam historis, partikular, dan kontekstual.

Kita tidak diwajibkan mengikuti Rasul secara harfiah, sebab apa yang dilakukan olehnya di Madinah adalah upaya menegosiasikan antara nilai-nilai universal Islam dengan situasi sosial di sana dengan seluruh kendala yang ada. Islam di Madinah adalah hasil suatu trade-off antara “yang universal” dengan “yang partikular”.

Umat Islam harus ber-ijtihad mencari formula baru dalam menerjemahkan nilai-nilai itu dalam konteks kehidupan mereka sendiri. “Islam”-nya Rasul di Madinah adalah salah satu kemungkinan menerjemahkan Islam yang universal di muka Bumi; ada kemungkinan lain untuk menerjemahkan Islam dengan cara lain, dalam konteks yang lain pula. Islam di Madinah adalah one among others, salah satu jenis Islam yang hadir di muka Bumi.

Oleh karena itu, umat Islam tidak sebaiknya mandek dengan melihat contoh di Madinah saja, sebab kehidupan manusia terus bergerak menuju perbaikan dan penyempurnaan. Bagi saya, wahyu tidak berhenti pada zaman Nabi; wahyu terus bekerja dan turun kepada manusia. Wahyu verbal memang telah selesai dalam Quran, tetapi wahyu nonverbal dalam bentuk ijtihad akal manusia terus berlangsung.

Temuan-temuan besar dalam sejarah manusia sebagai bagian dari usaha menuju perbaikan mutu kehidupan adalah wahyu Tuhan pula, karena temuan-temuan itu dilahirkan oleh akal manusia yang merupakan anugrah Tuhan. Karena itu, seluruh karya cipta manusia, tidak peduli agamanya, adalah milik orang Islam juga; tidak ada gunanya orang Islam membuat tembok ketat antara peradaban Islam dan peradaban Barat: yang satu dianggap unggul, yang lain dianggap rendah. Sebab, setiap peradaban adalah hasil karya manusia, dan karena itu milik semua bangsa, termasuk milik orang Islam.

Umat Islam harus mengembangkan suatu pemahaman bahwa suatu penafsiran Islam oleh golongan tertentu bukanlah paling benar dan mutlak, karena itu harus ada kesediaan untuk menerima dari semua sumber kebenaran, termasuk yang datangnya dari luar Islam. Setiap golongan hendaknya menghargai hak golongan lain untuk menafsirkan Islam berdasarkan sudut pandangnya sendiri, yang harus di-“lawan” adalah setiap usaha untuk memutlakkan pandangan keagamaan tertentu.

Saya berpandangan lebih jauh lagi, setiap nilai kebaikan, di mana pun tempatnya, sejatinya adalah nilai Islam juga. Islam — seperti pernah dikemukakan Cak Nur dan sejumlah pemikir lain — adalah “nilai generis” yang bisa ada di Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu, Yahudi, Taoisme, agama dan kepercayaan lokal, dan sebagainya. Bisa jadi, kebenaran “Islam” bisa ada dalam filsafat Marxisme.

Saya tidak lagi memandang bentuk, tetapi isi. Keyakinan dan praktik ke-Islam-an yang dianut oleh orang-orang yang menamakan diri sebagai umat Islam hanyalah “baju” dan forma; bukan itu yang penting. Yang pokok adalah nilai yang tersembunyi di baliknya.

Amat konyol umat manusia bertikai karena perbedaan “baju” yang dipakai, sementara mereka lupa, inti “memakai baju” adalah menjaga martabat manusia sebagai makhluk berbudaya. Semua agama adalah baju, sarana, wasilah, alat untuk menuju tujuan pokok: penyerahan diri kepada Yang Maha Benar.

Ada periode di mana umat beragama menganggap, “baju” bersifat mutlak dan segalanya, lalu pertengkaran muncul karena perbedaan baju itu. Tetapi, pertengkaran semacam itu tiak layak lagi untuk dilanggengkan kini.
***
MUSUH semua agama adalah “ketidakadilan”. Nilai yang diutamakan Islam adalah keadilan. Misi Islam yang saya anggap paling penting sekarang adalah bagaimana menegakkan keadilan di muka Bumi, terutama di bidang politik dan ekonomi (tentu juga di bidang budaya), bukan menegakkan jilbab, mengurung kembali perempuan, memelihara jenggot, memendekkan ujung celana, dan tetek bengek masalah yang menurut saya amat bersifat furu’iyyah. Keadilan itu tidak bisa hanya dikhotbahkan, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk system dan aturan main, undang-undang, dan sebagainya, dan diwujudkan dalam perbuatan.

Upaya menegakkan syariat Islam, bagi saya, adalah wujud ketidakberdayaan umat Islam dalam menghadapi masalah yang mengimpit mereka dan menyelesaikannya dengan cara rasional. Umat Islam menganggap, semua masalah akan selesai dengan sendirinya manakala syariat Islam, dalam penafsirannya yang kolot dan dogmatis, diterapkan di muka Bumi.

Masalah kemanusiaan tidak bisa diselesaikan dengan semata-mata merujuk kepada “hokum Tuhan” (sekali lagi: saya tidak percaya adanya “hukum Tuhan”; kami hanya percaya pada nilai-nilai ketuhanan yang universal), tetapi harus merujuk pada hukum-hukum atau sunnah yang telah diletakkan Allah sendiri dalam setiap bidang masalah. Bidang politik mengenal hukumnya sendiri, bidang ekonomi mengenal hukumnya sendiri, bidang sosial mengenal hukumnya sendiri, dan seterusnya.

Kata Nabi, konon, man aradad dunya fa’alihi bil ‘ilmi, wa man aradad akhirata fa’alihi bil ‘ilmi; barang siapa hendak mengatasi masalah keduniaan, hendaknya memakai ilmu, begitu juga yang hendak mencapai kebahagiaan di dunia “nanti”, juga harus pakai ilmu. Setiap bidang ada aturan, dan tidak bisa semena-mena merujuk kepada hukum Tuhan sebelum mengkajinya lebih dulu. Setiap ilmu pada masing-masing bidang juga terus berkembang, sesuai perkembangan tingkat kedewasaan manusia. Sunnah Tuhan, dengan demikian, juga ikut berkembang.

Sudah tentu hukum-hukum yang mengatur masing-masing bidang kehidupan itu harus tunduk kepada nilai primer, yaitu keadilan. Karena itu, syariat Islam, hanya merupakan sehimpunan nilai-nilai pokok yang sifatnya abstrak dan universal; bagaimana nilai-nilai itu menjadi nyata dan dapat memenuhi kebutuhan untuk menangani suatu masalah dalam periode tertentu, sepenuhnya diserahkan kepada ijtihad manusia itu sendiri.

Pandangan bahwa syariat adalah suatu “paket lengkap” yang sudah jadi, suatu resep dari Tuhan untuk menyelesaikan masalah di segala zaman, adalah wujud ketidaktahuan dan ketidakmampuan memahami sunnah Tuhan itu sendiri. Mengajukan syariat Islam sebagai solusi atas semua masalah adalah sebentuk kemalasan berpikir, atau lebih parah lagi, merupakan cara untuk lari dari masalah; sebentuk eskapisme dengan memakai alasan hukum Tuhan.

Eskapisme inilah yang menjadi sumber kemunduran umat Islam di mana-mana. Saya tidak bisa menerima “kemalasan” semacam ini, apalagi kalau ditutup-tutupi dengan alasan, itu semua demi menegakkan hukum Tuhan. Jangan dilupakan: tak ada hukum Tuhan, yang ada adalah sunnah Tuhan serta nilai-nilai universal yang dimiliki semua umat manusia.

Musuh Islam paling berbahaya sekarang ini adalah dogmatisme, sejenis keyakinan yang tertutup bahwal suatu doktrin tertentu merupakan obat mujarab atas semua masalah, dan mengabaikan bahwa kehidupan manusia terus berkembang, dan perkembangan peradaban manusia dari dulu hingga sekarang adalah hasil usaha bersama, akumulasi pencapaian yang disangga semua bangsa.

Setiap doktrin yang hendak membangun tembok antara “kami” dengan “mereka”, antara hizbul Lah (golongan Allah) dan hizbusy syaithan (golongan setan) dengan penafsiran yang sempit atas dua kata itu, antara “Barat” dan “Islam”; doktrin demikian adalah penyakit sosial yang akan menghancurkan nilai dasar Islam itu sendiri, nilai tentang kesederajatan umat manusia, nilai tentang manusia sebagai warga dunia yang satu.

Pemisah antara “kami” dan “mereka” sebagai akar pokok dogmatisme, mengingkari kenyataan bahwa kebenaran bisa dipelajari di mana-mana, dalam lingkungan yang disebut “kami” itu, tetapi juga bisa di lingkungan “mereka”. Saya berpandangan, ilmu Tuhan lebih besar dan lebih luas dari yang semata-mata tertera di antara lembaran-lembaran Quran.

Ilmu Tuhan adalah penjumlahan dari seluruh kebenaran yang tertera dalam setiap lembaran “Kitab Suci” atau “Kitab-Tak-Suci”, lembaran-lembaran pengetahuan yang dihasilkan akal manusia, serta kebenaran yang belum sempat terkatakan, apalagi tertera dalam suatu kitab apa pun. Kebenaran Tuhan, dengan demikian, lebih besar dari Islam itu sendiri sebagai agama yang dipeluk oleh entitas sosial yang bernama umat Islam. Kebenaran Tuhan lebih besar dari Quran, Hadis dan seluruh korpus kitab tafsir yang dihasilkan umat Islam sepanjang sejarah.

Oleh karena itu, Islam sebetulnya lebih tepat disebut sebagai sebuah “proses” yang tak pernah selesai, ketimbang sebuah “lembaga agama” yang sudah mati, baku, beku, jumud, dan mengungkung kebebasan. Ayat Innaddina ‘indal Lahil Islam (QS 3 : 19), lebih tepat diterjemahkan sebagai , “Sesungguhnya jalan religiusitas yang benar adalah proses yang-tak-pernah selesai menuju ketundukan (kepada Yang Maha Benar).”

Dengan tanpa rasa sungkan dan kikuk, saya mengatakan, semua agama adalah tepat berada pada jalan seperti itu, jalan panjang menuju Yang Mahabenar. Semua agama, dengan demikian, adalah benar, dengan variasi, tingkat dan kadar kedalaman yang berbeda-beda dalam menghayati jalan religiusitas itu. Semua agama ada dalam satu keluarga besar yang sama: yaitu keluarga pencinta jalan menuju kebenaran yang tak pernah ada ujungnya.

Maka, fastabiqul khairat, kata Quran (QS 2 : 148); berlomba-lombalah dalam menghayati jalan religiusitas itu.

Syarat dasar memahami Islam yang tepat adalah dengan tetap mengingat, apa pun penafsiran yang kita bubuhkan atas agama itu, patokan utama yang harus menjadi batu uji adalah maslahat manusia itu sendiri.

Agama adalah suatu kebaikan buat umat manusia; dan karena manusia adalah organisme yang terus berkembang, baik secara kuantitatif dan kualitatif, maka agama juga harus bisa mengembangkan diri sesuai kebutuhan manusia itu sendiri. Yang ada adalah hokum manusia, bukan hukum Tuhan, karena manusi stake holder yang berkepentingan dalam semua perbincangan soal agama ini.

Jika Islam hendak diseret kepada suatu penafsiran yang justru berlawanan dengan maslahat manusia itu sendiri, atau malah menindas kemanusiaan itu, maka Islam yang semacam ini adalah agama fosil yang tak lagi berguna buat umat manusia.

Mari kita cari Islam yang lebih segar, lebih cerah, lebih memenuhi maslahat manusia. Mari kita tinggalkan Islam yang beku, yang menjadi sarang dogmatisme yang menindas maslahat manusia itu sendiri.

Keterangan: 
Tulisan ini dimuat di Harian Kompas, 18 September 2002

Jumat, 04 Maret 2011

Menuju Demarkasi Kongsi Koalisi Pak Beye

Kasak kusuk perpolitikan Indonesia dua minggu terakhir ini kembali menghangat. Diawali dari kisruh voting hak angket DPR untuk membongkar praktik mafia pajak di DPR, masalah ini kemudian menjalar sampai ke ranah eksekutif. Pak SBY sebagai  presiden sekaligus pembina Partai Demokrat yang nota bene adalah partai penyokong utama Pak SBY di DPR dan Kabinet, marah bukan kepalang karena perilaku mitra partai koalisinya yang tidak sepaham dalam menyikapi permintaan hak angket di legislatif. Singkat  cerita, sikap fraksi-fraksi mitra koalisi di DPR terbelah ketika voting dilakukan. Adalah Partai Golkar dan PKS yang membelot dari koalisi karena secara terang benderang mereka mendukung hak angket mafia pajak yang sebelumnya dikomandoi oleh partai oposisi. Pecah kongsi koalisi pun terjadi!

Gertak Sambal Pak Beye

Publik cukup terhenyak melihat kemarahan Pak SBY saat menegur partai mitra koalisi yang membelot dan tidak sejalan lagi dengan kebijakan untuk menolak hak angket mafia pajak. Partai Golkar dan PKS dipandang oleh Pak SBY sebagai pengkhianat dan tidak loyal lagi dengan garis kebijakan koalisi. Lebih lanjut, dua partai ini juga menyalahi dan melanggar code of conduct koalisi yang dibuat saat pembentukan KIB II dilakukan Pak SBY. Respon yang diberikan oleh Golkar dan PKS pun tidak kalah gertak. Mereka memandang apa yang mereka putuskan tidak bertentangan dengan aturan main koalisi. Atas nama rakyat, mereka melihat hak angket mafia pajak dapat menjadi salah satu instrument penting untuk membenahi dan membongkar karut marut pengelolaan perpajakan kita. Selain itu, suara akar rumput Golkar dan PKS dipelbagai daerah juga menyatakan untuk mendukung hak angket.  Di sisi yang lain, ketulusan Golkar dan PKS untuk membawa aspiriasi rakyat ditanggapi dengan argumen kontra oleh Demokrat. Menurut mereka, dibentuknya Panja DPR yang didalamya juga terdapat perwakilan fraksi Golkar dan PKS dirasakan sudah cukup untuk merepresentaskan sikap mereka dalam memperbaiki issue yang diangkat dalam voting hak angket mafia pajak. Lebih lanjut menurut kubu Demokrat berkilah, Panitia Kerja (Panja) DPR yang sudah bekerja akan menjadi sia-sia jika nantinya hak angket juga dilakukan. Selain mengebiri hasil kerja Panja DPR, dari sisi waktu, tenaga, dan biaya juga akan terkuras dan dinilai tidak efisien.

Apapun itu, murka Pak SBY kepada Golkar dan PKS bukan sekedar ancaman kosong. Langkah Demokrat yang merapatkan barisan kepada PDIP dan Gerindra (yang selama ini dikenal sebagai oposisi) menjadi langkah kongkrit untuk mensukseskan bongkar pasang kongsi koalisi. Keluarnya Golkar dan PKS dalam hitung-hitungan matematis harus diisi oleh masuknya pengganti mitra koalisi yang sepadan dari sisi hak suara dan strategis calon mitra partai. Gerindra telah menyatakan siap menggantikan PKS. Hal ini terlihat dari membelotnya sikap Gerindra kepada Demokrat ketika voting hak angket dilakukan. Langkah Gerindra ini kemudian menjadi kunci gagalnya hak angket di DPR karena hasil voting memenangkan Koalisi dengan selisih hanya dua suara. Sedangkan dari PDIP, terbelahnya suara menerima atau menolak pinangan Demokrat juga masih tanda tanya. Bertemunya Puan Maharani  (anak kandung Megawati Soekarni Putri, sekaligus ketua umum PDIP) dengan Pak SBY yang ditengarai akan menjadi kunci bergabung tidaknya PDIP kepada pemerintah juga masih simpang siur hasilnya. Apalagi, hasil kongres PDIP jelas mengamanatkan partai moncong  putih ini menjadi oposisi. Ini soal harga diri. Sebagian besar kader PDIP menganggap akan lebih banyak ruginya jika PDIP bergabung dengan Pemerintah Pak SBY.  

Pun demikian, manuver partai-partai  politik belakangan ini menjadi tontonan dan guyonan yang menyegarkan (semu) bagi semua yang melihat. Menjadi segar karena keributan ini sejatinya tidak akan mempengaruhi perbaikan dan efektifitas program pemerintah.  Yang terjadi justru menghambat dan kemudian menggerus kepercayaan rakyat kepada pemerintah dalam menjawab masalah bangsa yang kian pelik. Pak SBY tidak sadar bahwa ancaman nyata yang sebenarnya datang dari luar negara kita. Maraknya revolusi di Timur Tengah dan Afrika Utara telah mengerek harga minyak dunia menembus harga 100 USD. Untuk pengiriman bulan Aplil 2011 saja, menurut situs bloomberg, harga minyak dunia sudah sampai pada kisaran 110 USD. Belum lagi ancaman ketahanan pangan domestik kita serta melambungnya harga pangan dunia. Dua hal ini yang akan menjadi tantangan dan masalah yang akan langsung mempengaruhi kehidupan masyarakat kita. Belum lagi ketahanan energi nasional kita yang hanya cukup untuk dua minggu ke depan. Bandingkan dengan Jepang dan Singapura yang notabene tidak memiliki sumber daya energy, tapi ketahanan energi nasionalnya mencapai waktu lebih dari seratus hari. Ironis memang! Dan kenyataannya, para pemimpin kita tidak peduli dengan hal ini. Acara untuk menanam pohon bagi perbaikan lingkungan saja, oleh presiden diindahkan demi mengurusi kongsi koalisi yang sedang diambang kehancuran. Sebuah hal yang sejatinya tidak perlu dibuat menjadi tragedi nasional yang menyita banyak tenaga dan waktu, serta mengorbankan hal-hal yang esensial.

Besar kecilnya sebuah koalisi di negeri ini pada akhirnya akan ditentukan oleh budaya transaksional politik dan kekuasaan. Atas nama kepentingan partai, masalah pecah kongsi koalisi pada hakikatnya hanya akan membuang energi  presiden dan rakyat selama penyatuan kepentingan tidak pernah sepaham (dan tidak akan pernah sepaham selamanya). Pak SBY tidak usah peduli dengan minimnya dukungan di eksekutif dan legislatif jika memang Golkar dan PKS keluar dari koalisi. Dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, presiden akan sangat sulit digulingkan karena tahapannya sangat panjang dan lama. Membangun koalisi yang solit, ramping, dan responsif jauh lebih penting bagi Pak SBY saat ini, daripada membuat koalisi yang gemuk tapi banyak penyakit dan masalah.

Selama ini manuver partai konservatif macam Golkar memang tidak dapat disangkal. Kelihaian dan jam terbang kadernya kadang memecah belah dan merusak stabilitas pemerintahan walau tema yang mereka usung demi rakyat dan demi tanah air tercinta. Tidak hanya kali ini saja Golkar berulah, pada masa kepemimpinan Ibu Megawati dan Pak SBY pada KIB  pertama, sikap Golkar yang keluar dari koalisi ketika masa pemerintahan akan memasuki periode akhir, menjadi pertanyaan mendasar bagi kita semua dalam  memandang perihal kekompakan dan kesolitan dalam membangun komitmen sebuah koalisi yang sehat dari Golkar. Wajar jika kemudian Golkar dicap sebagai partai siluman atau partai gelap. Sikap cuci tangan dan kamuflase Golkar dalam mengungkap masalah mafia pajak juga masih dipertanyakan oleh banyak kalangan. Tersangkutnya nama Pak Ical (Ketua umum Partai Golkar) dalam kasus mafia pajak Gayus Tambunan juga menjadi bola panas dalam menyikapi manuver Golkar di Kabinet dan DPR kali ini. Sebagai partai senior dan memiliki banyak kader jenius nan lihai dalam melobi dan berwacana, keberhasilan Golkar kali ini patut kita tunggu setelah keberhasilan-keberhasilan sebelumnya.

Menanti sikap Pak Beye

Bagaimanapun, bola panas pecahnya kongsi koalisi kali ini berada di tangan PDIP. Jika mereka jadi bergabung dengan pemerintah, maka permasalahan pelik ini akan selesai. Namun, manuver Taufik Keamas dan beberapa kader PDIP yang mendukung untuk bergabung dengan koalisi juga harus berhadapan dengan hasil Kongres PDIP. Penodaan akan hasil kongres yang memutuskan PDIP menjadi oposisi terhadap pemerintah akan dibayar mahal dengan ketidakpercayaan para pendukung PDIP di akar rumput. bukan tidak mungkin PDIP akan ikut terseret dan terpecah belah dari manuver politik rivalnya.

Bagi masa depan PKS sendiri, manuver partai dalam mendukung hak angket mafia pajak untuk menyenangkan pendukungnya (dan menjaga wibawa partai dimata publik) akan dibayar mahal ketika mereka jadi didepak dari koalisi. Namun demikian, keluarnya PKS dari koalisi juga akan menjadi dosa terbesar SBY kepada partai moderat ini karena dari sisi historis, kedekatan PKS dan Pak SBY sangat terlihat dan telah terbina dengan baik dari mulai Pemerintahan KIB pertama dibentuk sampai dengan saat ini. Naiknya SBY sebagai presiden pada periode kedua kali ini juga tidak lepas dari keringat PKS yang ikut mengatur dan mencitrakan SBY untuk mengerek kembali popularitas SBY di mata rakyat dan dimata hasil survei pelbagai lembaga suvei nasional. Ini akan mejadi ujian sikap tegas SBY yang sangat sulit dibaca karena pada umumnya seringkali berakhir tidak tegas ketika diimplementasikan di lapangan.

Secara kasat mata, beraninya manuver-manuver partai pendukung koalisi seperti Golkar dan PKS mencerminkan adanya masalah dalam Setgab Koalisi. Ketiadaan komunikasi politik yang transparan dan intensif berimplikasi kepada karut marutnya pengelolaan kongsi koalisi. Manajemen koalisi yang salah kaprah juga mengakibatkan tidak sepahamnya mitra-mitra koalisi dalam membaca code of conduct yang telah disepakati. Lebih dari itu, ketiadaan komunikasi yang baik juga berakibat kepada sering gagalnya kebijakan yang dibuat oleh pemerintah dalam tataran formulasi dan legislasi di DPR, bahkan ketika kebijakan itu diimplementasikan persoalan koordinasi dan kesepahaman tidak jarang muncul. Ini adalah buah dari sistem presidensial setengah hati yang kita anut, ditambah lagi dengan mekanisme kepartaian yang bercirikan multipartai ikut menggerus stabilitas dan kesolitan eksekutif.

Menurut hemat penulis, Pak SBY kali ini harus membangun komunikasi mitra koalisi yang efektif dan intensif serta tidak menitikberatkan pembuatan dan keputusan kebijakan pada salah satu mitra koalisi saja. Kecemburuan PKS yang tercermin dari manuver-manuver politik partai yang tidak lazim kita temui pada masa lalu adalah bukti kegerahan dan ketidakpuasannya kepada pemimpin oposisi (Demokrat). Leadership Pak SBY dalam menjalankan koalisi juga harus diperbaiki, terutama dari sisi kualitas. Mencla menclenya sikap dan kebijakan Pak SBY dalam menelaah dan memutuskan sebuah persoalan berimplikasi kepada sikap masing-masing mitra koalisi yang tidak dapat dikendalikan. Gertak sambalnya Pak SBY dalam pelbagai issue nasional seperti polemik penetapan Sri Sultan Hamangkubuwono sebagai pemimpin Yogyakarta dan perkembangan hak angket Century, juga menjadi faktor penentu sikap mitra koalisi dan masyarakat kebanyakan dalam memandang apa yang dipikirkan dan lakukan Pak SBY sebagai gertakan sambal. Belum lagi pertempuran Demokrat versus Golkar di ranah olah raga seperti kisruh PSSI yang tidak kunjung usai mencerminkan ketidaksolitannya koalisi yang dibangun. Memang domain perseturuan dua kubu ini tidak secara jelas terlihat. Namun, aroma rivalitas dan penunjukkan eksistensi partai atau golongan tertentu melalui ucapan dan tarik ulur dukungan di DPR maupun di Kabinet menjadi sinyal dalam membaca pertempuran dua kelompok ini untuk agenda 2014.

Kita tunggu saja apakah Pak SBY kali ini benar-benar menjalankan ancamannya, atau akan kembali antiklimaks seperti yang sudah-sudah. Yang pasti, banteng moncong putih kini mulai keluar dari kandangnya untuk mencari suasana baru. Mungkin ia sudah mulai bosan di dalam kandang yang kadung bau dan tidak nyaman pada kenyataannya. Garuda tanpa sayap pun kini telah mulai turun dari peraduan untuk mencari mitra dan eksistensi politik.  Garuda tanpa sayap ini mulai bercengkrama dengan bintang bermata segitiga. Lain halnya dengan bulan sabit dan pohon beringin yang sedang mencari keteduhan karena resah gelisah memikirkan posisinya yang mulai terancam. Apapun itu, cita rasa politik negeri ini masih terasa legit untuk dinikmati. Kita sebagai rakyat tentunya rasannya selain menyejukkan hati, juga menyenangkan jiwa, lagi sehat dan bervitamin. Koalisi tambun atau ramping bagi kita tidak ada masalah. Selama tubuhnya sehat dan bervitamin, kita yakin tubuh yang demikian akan aktif dan bekerja dengan benar dengan pikiran dan raga yang sehat pula tentunya.!

Menyitir dari pendapat dari kader senior partai Demokrat Ahmad Mubarok, Pak SBY dalam bertindak memang sangat hati-hati. Sampai-sampai antara hati-hati dan ketidaktegasan sulit dibedakan, termasuk dari kadernya sendiri. Tapi intuisi Pak SBY oleh mereka yang dekat dengannya tidak meleset dan selalu berakhir baik. Contoh nyata lanjut Mubarok, ketika KIB pertama berlangsung, kader partai Demokrat mendapat jatah kursi menteri lebih sedikit dari pada partai Bulan Bintang. Kader Demokrat marah dengan keputusan Pak SBY. Tapi, SBY menyikapinya dengan ucapan “ Orang sabar akan menang diakhir”. Kenyataannya memang demikian, Pada periode kepemimpinan yang kedua, suara Demokrat melonjak tajam, bahkan menang pemilu. Sedangka Partai Bulan Bintang malah hancur tidak berbekas dan kalah jauh dari segi perolehan suara. Entahlah…berlama-lamanya Pak SBY menikmati kegamangan ini terinspirasi dari cerita Pak Mubarok atau karena memang sikap-hatinya karena tidak adanya nyali untuk menyentil mitra koalisinya, hanya Tuhan dan Pak SBY yang tahu…

Rabu, 23 Februari 2011

Deja Vu? Hantu Inflasi Ancam Ekonomi 2011

Deja vu,” ini mungkin kata yang paling pas untuk menggambarkan tren beberapa indikator ekonomi Indonesia akhir-akhir ini. Seakan memutar ulang cerita sebelum crash tahun 2008, kita menyaksikan bagaimana harga saham melonjak 46 persen, rupiah menguat 4,5 persen, dan ekonomi yang tumbuh cukup solid di kisaran 6 persen pada tahun 2010. Pada saat yang sama, kita juga mulai was-was terhadap meroketnya harga-harga komoditas terutama sejak pertengahan 2010. Hampir semua komoditas harganya telah melampaui rekor harga tahun 2008. Komoditas gula, palladium, kapas, perak dan jagung berturut-turut mencatat rekor kenaikan harga tertinggi (gula mencapai harga tertinggi dalam 30 tahun terakhir).

Yang paling merisaukan adalah kenaikan harga-harga pangan. Laporan FAO (Food & Agricultural Organization) baru-baru ini menunjukkan indeks yang merangkum 55 komoditas pangan sudah melampaui posisi tahun 2008. Di dalam negeri sendiri, kenaikan harga pangan terutama terjadi pada komoditas beras dan sayuran, sementara cabai pun dibicarakan di sidang kabinet karena harganya meroket.

Penulis khawatir jika tren bullish tersebut berlanjut, pada akhirnya akan memicu krisis pangan global. Ujung-ujungnya gejolak sosial-politik dapat terjadi terutama di negara-negara emerging markets (EM) termasuk China dan India yang saat ini menjadi tumpuan penggerak ekonomi global (sebagai catatan, tragedi Tiananmen di China sedikit banyak dipicu oleh tingginya harga pangan pada akhir tahun 1989). Hal ini tentunya berdampak negatif bagi Indonesia yang sekitar 15 persen ekspornya ditujukan ke China dan India sekitar 56 persen ekspornya berupa komoditas yang permintaannya tergantung kondisi global. Alhasil, kendati pemicunya berbeda (krisis 2008 dipicu krisis sub-prime mortgage), skenario tahun 2008 bisa kembali berulang (deja vu) dan pertumbuhan ekonomi pun kembali melempem.

Kombinasi penyebab

Menurut pandangan saya, penyebab terjadinya lonjakan harga komoditas bukan hanya satu faktor, namun kombinasi beberapa faktor. Faktor non-ekonomi berupa cuaca ekstrem di pelbagai belahan dunia dan hambatan di sisi pasokan dan distribusi merupakan salah satu tertuduh naiknya harga komoditas. Selain itu, menjamurnya hedge fund (commodity funds) dan produk-produk derivatif berbasis komoditas turut memicu naiknya harga komoditas. Dengan memanfaatkan suku bunga murah dan kebijakan moneter akomodatif di negara-negara maju (strategi carry trade), investor memborong komoditas pangan, energi dan tambang.

Pemulihan ekonomi yang diikuti kenaikan output industri dan tren urbanisasi di negara-negara EM juga berperan dalam mendongkrak permintaan komoditas. Kebijakan stimulus fiskal dan moneter pasca krisis 2008 yang ditempuh China dan India mendorong terjadinya booming terutama di sektor properti. Sementara itu, tren urbanisasi memicu naiknya permintaan mobil, rumah dan barang-barang konsumsi lainnya sehingga permintaan baja, karet, alumunium dan lain-lain pun ikut terkerek naik.

Untuk kasus Indonesia, di samping faktor cuaca dan melonjaknya harga internasional, kenaikan harga komoditas tampaknya lebih disebabkan oleh keterbatasan infrastruktur dan struktur pasar yang cenderung distortif. Seperti di negara-negara berkembang lainnya, keterbatasan infrastruktur menyebabkan besarnya disparitas harga antar daerah. Sementara peran spekulator (oknum pedagang yang menguasai distribusi) juga dominan dalam menggoreng kenaikan harga-harga pangan di Indonesia. Pasar yang dimonopoli segelintir pemain memicu terjadinya kartel harga. Hal ini terindikasi dari tren harga yang terus merangkak naik kendati volume permintaan cenderung turun atau stagnan.

Antisipasi ke depan

Sebagai reaksi terhadap menguatnya tekanan inflasi dan harga komoditas khususnya pangan, kebanyakan bank sentral negara-negara EM bereaksi dengan menaikkan suku bunga patokannya (policy rate). Contohnya, China dan Korea Selatan sudah menaikkan suku bunganya sebanyak 2 kali. Brazil, Taiwan, dan Thailand sudah menaikkan suku bungannya sebanyak 3x, India bahkan sudah menaikkan suku bunganya sebanyak 6 kali. Indonesia sendiri belum menaikkan suku bunga patokannya. Ada kekhawatiran aliran hot money akan kian deras membanjiri sistem finansial domestik jika suku bunga patokan dinaikkan, lihat blog “Hindari Bubble, RI perlu SWF.” Selain itu, pertumbuhan jumlah uang beredar hingga November 2010 juga masih tergolong rendah, tumbuh hanya 13,8 persen jauh di bawah angka pada akhir 2008 yang berada di kisaran 20 persen.

Secara umum, gelembung harga aset di sektor-sektor di luar komoditas (terutama properti) juga belum tampak. Sejauh ini, pembentuk inflasi di Indonesia memang sekitar 60 persen disumbang oleh volatile food, sehingga lonjakan inflasi yang terjadi dianggap temporer dan belum perlu direspons dengan kebijakan suku bunga. Namun seperti yang saya jelaskan di atas, harga komoditas dunia berpotensi untuk bertahan di posisi tinggi. Pemerintah juga berencana untuk melakukan pembatasan BBM bersubsidi mulai Maret 2010. Tingginya ekspektasi inflasi tersebut biasanya juga diikuti oleh tuntutan kenaikan upah yang ujung-ujungnya akan mempengaruhi harga barang jadi.

Alhasil, inflasi inti pun akan cenderung naik. Kenaikan inflasi inti perlu diwaspadai karena karakteristiknya yang cenderung permanen dan kian membesar (spiralling effect) jika tidak diantisipasi secara tepat dan lugas. Kita hanya dapat berharap potensi spiral inflasi tersebut dapat direspons oleh pemerintah dan otoritas moneter dengan koordinasi yang sinergis. Lonjakan harga pangan harus disikapi dengan bijak karena kebanyakan masyarakat masih bekerja hanya untuk makan (data Susenas BPS tahun 2009 menunjukkan 51 persen pengeluaran penduduk masih dihabiskan untuk konsumsi makanan). Perbaikan struktur pasar, produktifitas, distribusi dan infrastruktur transportasi perlu menjadi prioritas dibandingkan wacana pemerintah untuk menghilangkan komoditas cabai dalam perhitungan inflasi.

Banyak negara yang mengalami persoalan akibat naiknya harga komoditas. Meroketnya harga gandum jadi masalah di Russia, bawang putih di China, tomat di Mesir dan Israel, Jagung di AS sedangkan kenaikan harga gula menuai protes di Pakistan. Namun, tak satu pun negara yang mengambil jalan pintas dengan mengeluarkan atau mengurangi bobot komoditas tersebut dari perhitungan inflasinya. Perhitungan inflasi harus berpedoman pada metode ilmiah berdasarkan survei pengeluaran masyarakat pada suatu periode tertentu. Jika metode perhitungan diubah semata-mata karena kepentingan jangka pendek, indikator inflasi akan menjadi tidak kredibel untuk dipakai sebagai acuan kebijakan.

Referensi
(a) Food & Agricultural Organization
(b) David Samuel, http://www.kontan.co.id
(c) David Samuel, "Hindari Bubble, RI perlu SWF"

Selasa, 22 Februari 2011

Sahabat atau Cintamu?



Sebuah pertanyaan yang kadang menjadi beban berat bagi mereka yang mengalaminya. Pertanyaan yang mengusik setiap langkah dan hari-harimu. Masihkah kamu bimbang? Atau kamu takut keduanya akan bersatu? Atau…kamu tidak rela salah satunya hilang dalam keseharianmu? Dan percayalah, saat kau baca wicaraku, pastikan kamu akan putuskan apapun yang membuatmu bingung.

Tuhan memberikan cinta bagi mereka yang merasakannya. “Cinta” dan “sahabat” ditakdirkan untuk bersama tapi tidak untuk saling mengenal. Begitu dekatnya mereka sampai diantara kalian mungkin tidak rela mereka bertemu dan lambat laun pergi satu per satu dari realita dan imajinasimu. Sahabatku, aku titipkan wicara ini untuk meneguhkan hatimu. Aku buatkan tulisanmu hanya karena aku tidak ingin kamu bersedih. Hingga kau tidak perlu lagi bimbang saat kau menemui hal-hal yang memberatkan dan menyakiti hatimu.

Satu hari cinta dan sahabat berjalan dalam sebuah desa di daerah pegunungan. Tiba-tiba Cinta terperosok ke dalam jurang yang dibawahnya ada telaganya. Kenapa bisa? Jawabnya karena cinta itu buta…

Lalu sahabat pun ikut terjun dalam telaga…Kenapa? Karena…sahabat akan melakukan apa saja demi cinta !!! Dan di dalam telaga cinta hilang… Kenapa? Karena…cinta itu halus, mudah hilang kalau tidak dijaga, sukar dicari, apa lagi dalam telaga yang gelap… Sedangkan sahabat masih mencari-cari dimana cinta berada. Dan sahabat, rela untuk terus menunggu.. Kenapa? Karen sahabat itu sejati dan akan kekal sebagai sahabat yang setia…Oleh karena itu, hargailah sahabat kita…

Walau kita sudah memiliki pasangan, sahabat kita tetap setia dengan kita. Walau kita punya harta banyak, sahabat masih lebih berharga. Bahkan tanpa kau sadari, Sahabatmu lebih banyak tahu dari dirimu. Sampai kamu menyesalinya, terkadang kamu membuat kekeliruan dalam melihat mana yang terpenting, sahabatmu atau cintamu.

Tapi yang pasti aku (dan kalian) tahu, bahwa sahabat itu lebih berarti dari cinta. Cinta yang kita sendiri tidak tahu bagaimana dan dari mana ia datang, lalu kapan berakhirnya. Walau keduanya dilandasi rasa kasih sayang, kamu tidak akan pernah tahu sampai kamu menyadari kasih sayang yang tulus untukmu. Kasih sayang yang hanya timbul dan diberikan untuk memastikan kamu akan tetap baik-baik saja. Sekedar memastikan kamu tidak berada dalam kesulitan. Sekedar memastikan bahwa kasih sayang itu akan menjaga kalian untuk menemukan dan memacahkan permasalahan. Dan memastikan semua kebahagian itu sejatinya dapat kita bagi bersama kepada orang-orang yang kita sayangi (sahabat).

Oleh karenanya, sudahkah kamu bicara ke semua sahabatmu sekarang bahwa mereka sangat berarti bagimu? dan mereka adalah sahabat terbaikmu? Takkan ada yang dapat menghancurkan kisah kalian…kau dan dia selamanya…Sahabatku. (14/02/2011)




Mewaraskan Pemimpin Melalui Media Pers

Memasuki awal tahun kelinci dalam kalender masyarakat Tionghoa, bangsa kita justru didera pelbagai masalah yang kian pelik. Semakin peliknya, permasalahan yang ada tidak hanya terletak pada tataran wacana dan retorika dari para elit kita, pada tataran akar rumput masalah yang sebenarnya justru sedang menguji kesatuan bangsa kita. Yang masih waras tentu masih dapat meredam dan menyikapi setiap masalah dengan besar hati dan kepala dingin. Tapi yang tidak tahu malu, semua gunjingan dan caci maki justru dimaknai sebagai alasan dan eksistensi diri kepada khalayak bahwa apa yang mereka perjuangkan adalah sebuah kebenaran (semu) yang berlindung dan berlandaskan hukum positif.

Barangkali melihat dan menelaah hukum tidak harus dilakukan dengan kaca mata kuda. Bagi orang yang paham dan tahu betul seluk beluk hukum, justru memaknai hukum sarus sebagai alat kepentingan atau kebenaran. Tengaklah pengacara-pengacara keren nan perlente. Atas nama kebenaran dan kebebasan hak asasi manusia mereka bangga dan mengantri untuk menjadi tameng para koruptor. Lihat cara bicara mereka! Penuh retorika dan bualan demi meyakinkan argumen mereka sebagai suatu kebenaran. Celakanya, hukum di negeri ini terlanjur kalah dikadali oleh mereka. Koruptor kian pintar dan lincah mencari celah karena andil mereka. Kita kadang bertanya, apakah mereka memakai nurani dalam bekerja? apakah mereka pura-pura tidak tahu dengan apa yang tidak kerjakan? Atau mereka memang didesain untuk mengindahkan mana kebenaran mana kesalahan demi mengedepankan hak asasi. Walau itu mengorbankan hak banyak orang demi memperjuangkan hak seseorang. Aneh!

Ya, hukum saat ini telah dipakai untuk mencari rente. Bukan hanya rente politik, dalam berolahraga pun, hukum telah diolahragakan. Hukum bergerak dinamis mengikuti kemauan sang penguasa. Makanya, mereka yang duduk sebagai pemangku kebijakan organisasi olahraga tidak perlu cakap dan bisa berolahraga. Yang penting mereka tahu bagaimana caranya membuat dan memodifikasi hukum olah raga seolah-olah “fair play”. Lihat saja, pemilihan bakal calon ketua PSSI menjadi dagelan terkini dari para mafia sepakbola. Disebut mafia karena mereka bekerja kolektif. Disebut mafia karena mereka membangun dan menyekat diri mereka dari kritik dan masukan. Disebut mafia karena batas sportifitas dan kecurangan tidak dapat dibedakan. Disebut mafia karena mereka menjadi orang pengecut dengan memakai cara-cara primitif. Malukah mereka? Mereka justru menikmatinya!

Negeri ini memang diisi dan dipimpin oleh orang-orang bedebah. Kelakuan mereka pun layaknya para bedebah yang gemar berbasa basi dalam panggung wacana dan aksi. Lihat saja, tarik ulur hak angket tentang mafia pajak yang ditunjukkan oleh para wakil rakyat. Bukan menghakimi, saya hanya mengamini perkataan almarhum Gus Dur bahwa mereka adalah “kumpulan taman kanak-kanak” ada benarnya juga. Lihat juga bagaimana seorang Sekretaris Kabinet akan “membredel” salah satu media cetak dan televisi yang menjelek jelekkan pemerintah. Negeri ini memang lucu. Begitu lucunya sampai tingkah polah mereka (elit) menjadi sinetron yang tak kunjung tamat. Menjadi lucu karena ancam mengancam itu warisan para tirani yang mereka kritik saat mereka (Sekretaris Kabinet) masih muda, bau kencur alias masih lugu menjadi Ketua Dewan Mahasiswa UI. Ancaman konyol ini ditanggapi oleh pelbagai kalangan sebagai hal yang berlebihan, gejala antidemokrasi, bahkan sesuatu yang menyedihkan.

Lalu, apakah kelakuan mereka (para bedebah) ini dapat dikatakan sebagai kegagalan kaderisasi dan pembelajaran politik elit? Saya termasuk orang yang setuju, bahkan dalam konteks tertentu, orang-orang seperti inilah pengkhianat demokrasi dan merusak pembangunan demokrasi yang sesungguhnya. Mereka telah gagal menjadi “agent of change”. Celakanya, tabiat dan fenomena ini terus terjadi dan marak. Orang-orang yang dulu kita kenal lantang berbicara dan  kontra terhadap penguasa, tahu-tahu telah memakai atribut partai tertentu. Mereka beralasan, perubahan harus dilakukan di dalam sistem. Itu betul, tapi lama kelamaan mereka juga yang digerakkan oleh sistem dan kepentingan rente oranisasi partai dan kelompok.

Kalau sudah begini, bagi kita yang masih waras, sudah saatnya mewaraskan orang-orang yang tidak waras. Waras dalam arti mampu menempatkan mana yang baik dan mana yang tidak baik dengan jujur. Waras dalam arti mampu mengukur dirinya apakah masih layak dan pantas untuk memimpin jabatan tertentu. Waras dalam arti berani mengatakan dirinya salah dan memandang setiap kritik dan masukan dari orang lain adalah isyarat bagi dirinya. 

Media dalam tataran demokrasi modern telah bertransformasi dan berafiliasi dengan alat-alat serta kepentingan publik. Media adalah sebuah cermin yang selalu memberikan pantulan gambar (keadaan) bagi mereka yang bercermin. Pantulan itu bukan sebuah kebohongan atau opini yang dikurangi atau ditambahi. Tapi sebuah kejujuran dan potret yang apa adanya. Media sejatinya adalah sarana kritik pembangun yang konstruktif. Walau ada media yang dibuat dan difungsikan sebagai rente kekuasaan dan pencitraan individu dan kelompok, masih banyak media kita yang tahu dan mengerti etika berjurnalisme. Media adalah kontrol sosial dan kontrol elit dan kelompok yang coba -coba jadi tirani dan jagoan tengik dengan cara-cara kotor dan curang.

Jadi, kita harus maklum jika para pemimpin selalu takut dan risih dengan media karena mereka takut dengan bayangan mereka sendiri. Mereka takut tidak dapat menerima kenyataan. Mereka takut karena sesungguhnya mereka adalah “media” yang dapat digunakan oleh media (Pers) untuk mewaraskan orang-orang yang sudah memasuki gejala tidak waras. Dan mungkin saja, mereka tidak sadar akan hal ini.

Rabu, 16 Februari 2011

The Gunners Patut Jumawa Kontra Barca

Kurang dari 24 jam lagi, laga Arsenal versus Barcelona akan berlangsung dalam lanjutan babak 16 besar Liga Champions Eropa. Selain menjadi partai big match, partai ini oleh banyak pengamat sepakbola juga ditengarai sarat emosi. Dari sekian partai menarik yang berlangsung dini hari nanti (17/02), partai Arsenal versus Barcelona banyak dinanti oleh semua, tidak terkecuali bagi Sir Alex Ferguson. Pelatih Manchester United itu mengklaim pertemuan Arsenal dengan Barcelona sebagai laga paling menarik. “Tak sedikit orang yang memprediksi Arsenal akan menghadapi Barcelona, dan itu adalah hal yang paling menarik,” ujar Ferguson dalam sebuah wawancara.

Kedua tim akan melakoni partai ulangan perempat final Liga Champion musim lalu di mana kala itu Los Azulgrana menghempaskan The Gunners dengan skor agregat 6-3 untuk melaju ke semifinal. Dapat dipastikan momeri tahun lalu akan jadi sarana dan semangat bagi Arsenal untuk menaklukkan Barca kali ini. Optmisme ini bukan tanpa alasan. Berbekal dari tren positif dari hasil EPL, dan tertahannya Barca di La Liga pada pekan lalu dapat menjadi momentum bagus bagi anak-anak London untuk menekan Barca sejak awal.

"Jika kami bisa menempatkan mereka dalam tekanan, maka kami akan menciptakan peluang. Idealnya itu adalah hal yang bisa kami upayakan sebelum pertandingan. Terkadang Anda memiliki ekstra fokus spesial dalam pertandingan semacam ini yang membuat Anda lebih efisien, jadi semoga kami bisa memilikinya." Demikian Pungkas Wenger dalam situs resmi Club yang bermarkas di London Utara. Arsenal dan semua pendukungnya patut jumawa. Selain menjadi ajang pembuktian, kemenangan dari Barcelona akan menambah rasa percaya diri bagi the Gunners untuk melanjutkan perburuan empat gelar tahun ini. Selain telah memastikan satu tempat di final Carling Cup, Arsenal juga ingin melanjutkan fase lebih jauh untuk Liga Champions.


Tidak hanya itu, aroma partai dendam ini akan semakin berwarna dengan hadirnya Cesc Fabregas di kubu Arsenal. Sebab sudah bukan rahasia umum lagi, Fabregas pernah menyampaikan cita-citanya untuk mengenakan jersey Barca. Yang menjadi pertanyaan, apakah kedekatan hatinya dengan Barcelona akan mempengaruhi penampilannya ketika Arsenal menjamu Barca di Emirates Stadium? Jika ditanyakan kepada sang profesor, Arsene Wenger menjawab tidak. Wenger yakin, Fabregas bisa bersikap profesional dan tidak membedakan pertandingan nanti. Persoalan kedekatan sang kapten secara emosional dengan Barca tidak akan menganggu konsentrasi Fabregas untuk menampilkan seluruh kemampuannya menghantam Azulgrana. “Dia akan menghadapi pertandingan ini seperti pertandingan-pertandingan lain, dengan hasrat besar untuk menang,” kata Arsene Wenger, seperti dikutip Emirates247.

Yang pasti, partai nanti malam wajib ditonton. Selain menyajikan permainan menyerang dari kedua Club, partai ini juga akan menjadi pembuktian yang  terbaik antara Messi dan Fabregas sebagai produk binaan akademi Barcelona. Jangan lupakan juga peran Samir Nasri yang semakin penting bagi lini tengah Arsenal. Kembalinya Robin van Persie juga akan mempertajam lini depan the Gunners.

Pertemuan dua Club ini juga akan mengingatkan kembali para pendukung dari kedua kubu, termasuk para pemain yang pernah dan masih bermain untuk kedua Club. Selain Fabregas, nama-nama beken macam Thierry Henry, Emmanuel Petit, Alexander Hleb, Sylvinho, Giovanni van Bronchost, dan Marc Overmars adalah nama-nama yang memiliki tempat tersendiri dihati para kedua supporter. Jadi, semoga partai ini berjalan menarik dan seru dengan Arsenal sebagai pemenangnya.